fbpx

BUMI MANUSIA; BUKAN SPOILER – Part 1

Oleh: Muhammad Zulfadlil Azhim

Sebelum menonton film ini marilah kita berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Bisa dibayangkan bagaimana jalan cerita film ketika awalnya kita sudah diajak untuk menyanyikan lagu kebangsaan?
Minke… begitu kata pertama pada awal cerita film karangan Sutradara Hanung Bramantyo yang berjudul “Bumi Manusia”.

Film yang diangkat dari Novel legendaris dengan judul yang sama karya Penulis melegenda Pramoedya Ananta Toer yang kata-kata dalam setiap tulisannya selalu diserap anak muda masa kini untuk dijadikan quote dalam status Instagram-nya. Pram sapaannya, merupakan sosok idola sebagaimana aku mengidolakan sosok Buya Hamka, walaupun pada masanya (orde baru) mereka berdua sering bertolak belakang, tetapi keduanya sama-sama memiliki segudang karya yang maha dahsyat untuk kita baca dan pelajari.

Tulisan ini tidak mengupas dari awal hingga akhir film seperti apa kisah yang terjadi antara Raden Mas Tirto Adhie/Minke yang diperankan Iqbal Ramadhan dengan Annalise Mellama diperankan Mawar Eva De Jongh mengarungi bahtera percintaan yang kompleks, spilisnya kakak Annalise (Robert Mellama), ataupun kematian dari Ayahnya Annalise di tempat pelacuran setelah meminum racun Ah Tjong (seorang dukun sekaligus pemilik tempat pelacuran). Tetapi, bagaimana melihat serta memaknai perjuangan hak asasi manusia, hak-hak perempuan, secara umum manusia pribumi yang diperjuangkan oleh Ibu Annalise, Nyai Ontosoroh seorang Gundik (budak perempuan) berjuang melepas sekat tingkatan kemanusiaan yang masih populer di masa itu, antara Eropa-Indo-Pribumi.

Minke yang seorang anak Bupati dan keluarga kerajaan dalam percakapannya kepada Nyai Ontosoroh berkata “ Mama, aku tidak mau menjadi Penguasa, tidak mau menjadi seseorang pesuruh dan disuruh, aku hanya ingin menjadi seorang pribumi yang hidup dalam Bumi Manusia”. Dipertemukannya Minke dengan Ann, sekaligus bersatunya pemikiran perlawanan yang selalu diperjuangkan Nyai dengan Minke menjadi keasikan tersendiri dalam film yang memakan waktu hampir 120 menit tersebut, apalagi film ini dirilis bertepatan dengan kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 tahun.

Lanjut di Part 2 :  BUMI MANUSIA; BUKAN SPOILER – Part 2

Read Previous

Minuman Sehat “Kedai Hitam Putih” Sangata, Menghangatkan Tubuh & Melegakan Flu

Read Next

BUMI MANUSIA; BUKAN SPOILER – Part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *