fbpx

BUMI MANUSIA; BUKAN SPOILER – Part 2

Nyai dalam satu scene berujar “door weerstand te bieden, worden we niet volledig verslagen (dengan melawan kita tidak sepenuhnya kalah)”. Minke yang cerdas itu terangguk tanda sepakat kepada Nyai. Dengan kehidupan yang masih berkasta-kasta antara orang eropa murni, eropa yang menikah dengan pribumi (indo), ataupun pribumi seutuhnya membuat Nyai dan Minke tersuluh untuk melawan.

Mereka melawan penindasan yan terjadi, melawan aturan hukum dan undang-undang yang tidak pernah pro kepada pribumi yang seakan-akan dianggap monkey atau binatang. Apalagi Nyai dalam pengalaman hidupnya telah dijual bapaknya sendiri kepada orang eropa, sudah pasti ia memiliki trauma besar untuk tidak lagi lemah dihadapan para bangsawan bejat itu.

Minke yang seorang lulusan sekolah terbaik Hoogere Burgerschool (H.B.S) seorang cerdik pandai anak penguasa kerajaan jawa di zaman koloanialisme yang masih bersekutu kepada penjajah. Max Tonellar merupakan nama penanya, Minke melawan kolonialisme melalui tulisan, sebagaimana Pram saat diasingkan di Pulau Buru saat masa-masa Orde Baru. Perlawanan Max melecut semangat pembacanya yang didominasi oleh pribumi lokal yang satu rasa sependeritaan, tulisannya terfokus kepada penghapusan kasta Eropa-Indo-Pribumi dan selalu menyuarakan kesetaraan (egaliter) dan semua orang sama dimata hukum (equality before the law).

Minke juga seorang yang romantic, ia begitu menyayangi Annalise saat awal jumpa, menikah, hingga Ann harus rela diasingkan ke negara asal ayahnya, Belanda. Ann pergi akibat hukum yang menembus hak-hak kemanusiaan, Sanikem (nama kecil Nyai Ontosoroh) seorang ibu yang berjuang berdarah-darah melahirkan Ann harus menjadi korban kolonialisme pada masa itu, karena ketidakadilan itu Nyai melawan dan karena kesewenang-wenangan itu Nyai berjuang.

Begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dalam film ini, cinta, perlawanan, hak asasi, dan masih banyak lagi. Film ini begitu direkomendasikan untuk para aktivis hak asasi manusia, mahasiswa, hingga anak-anak muda pemikir dan progresif. Aku teringat dalam satu scene film yang kata-katanya kira-kira seperti ini :

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri” Dirgahayu Republik Indonesia ke 74 Tahun.

Read Previous

BUMI MANUSIA; BUKAN SPOILER – Part 1

Read Next

Perlunya Wartawan Belajar Bahasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *