fbpx

Catatan Pinggir Asri Tawang “RASISME”

Mediakutim.com – Bertepatan 2 tahun saya menghirup udara bumi ini,28 agustus 1963,seorang aktifis dan pendeta bernama Martin Luther King Jr, berpidato di depan Lincoln Memorial dengan judul pidatonya ” I have a dream” yang membakar semangat kurang lebih 200 ribu orang yg berkumpul saat itu dan menjadikan pidato yang sangat berpengaruh dalam sejarah Amerika.

Dalam pidatonya Luther King berbicara tentang pengangguran,berbicara tentang rasial,dan berbicara tentang keadilan sosial. Dengan langgam mimbar yang retorik dan beapi api,menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan pidato King. Dalam menyuarakan hak hak sipil,menyuarakan kesetaraan antara kulit putih dan kulit berwarna lainnya,serta pencabutan undang undang dan kebijakan yang mendukung segregasi berdasarkan ras.

Indonesia jauh berbeda dengan Amerika yang dalam sejarahnya, telah terjadi perbudakan yg memicu perang sipil di tahun 1861, yang melibatkan wilayah selatan dan utara,union melawan konfederasi yang menolak perbudakan dan melakukan perbudakan. Indonesia tidak menganut sistem perbudakan dalam kemerdakaannya,karena sejak pemuda bersumpah di tahun 1928,jelas dan tegas menyatakan bahwa kita adalah satu bangsa yaitu bangsa Indonesia,Kita adalah satu bahasa adalah bahasa Indonesia dan kita adalah satu tanah air adalah tanah air Indonesia. Dalam sumpah itu,tidak ada sedikitpun makna rasisme yg terkadung di dalamnya. Warna kulit kita berbeda,tapi sama dilahirkan dari rahim Ibu Pertiwi. Kita setara walau berbeda suku,agama dan Ras.

Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Apa yang terjadi di Papua hari ini, karena mereka protes dan tak terima rasisme dan persekusi terhadap sejumlah mahasiswa Papua yang sedang belajar di Jawa Timur, Jum’at (16-08-2019)

Papua dan kita lahir dari satu rahim Ibu Pertiwi yang terbingkai dalam NKRI,dalam satu nation yg sama yaitu bangsa Indonesia. Oleh sebab itu,saya selalu mengatakan bahwa nasionalisme itu,bukan hanya sekedar gagasan,bukan sekedar narasi,tetapi nasionalisme itu,adalah kerja kolektif segenap anak bangsa ini untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Jika kita mengaku bahwa NKRI harga mati,berhentilah memanfaatkan isu Ras dan Agama sebagai alat pemecah bangsa ini.

“Saya selalu merenung,jika suatu hari nanti ada anak keturunan saya menikah dengan orang papua,itu artinya saya telah dianugrahi Tuhan untuk tidak menilai seseorang dengan warna kulitnya,tetapi berdasarkan kecintaannya kepada negeri ini”.

” Air Matamu Pace,Adalah Air Mata Ibu Pertiwi.Air Matamu Mace Adalah Air Mata Ibu Pertiwi. Papua Dan Kita Adalah Setara ”

* Asri Tawang.Penanggungjawab dan Pemimpin Redaksi Mediakutim.com

Read Previous

Perjalanan Hidup Ibarat Penunggang Kuda Disadur Ulang oleh Asri Tawang Dari Kebajikan

Read Next

Merdeka – Cerpen Karya Putu Wiajaya Episode 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *