fbpx

Merdeka – Cerpen Karya Putu Wiajaya Episode 1

Cerpen, Mediakutim.com – Pada hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan, seorang anak lahir di sebuah kota kecil. Bapaknya, seorang bekas pejuang kemerdekaan, menimang orok itu dengan bangga.

“Selamat datang ke atas dunia. Selamat datang di Indonesia, anakku,” kata lelaki yang bahagia itu. “Kau adalah harapanku, masa depanku dan pewarisku. Aku beri kau nama Merdeka dan jadilah kusuma bangsa. Tulis sejarah yang berbeda dari apa yang sudah aku alami di masa lalu. Merdekakan diri kamu dari segala macam penjajahan, jangan seperti bapakmu ini. Bebaskan negeri ini dari kemiskinan. Merdekakan rakyat dari kesengsaraan akibat kezaliman para pemimpinnya sendiri. Jadilah masa depan kami semua!”

Merdeka kecil, sudah bisa mendengar, tetapi belum bisa menyimak. Ia hanya membuka mulutnya dan tertawa. Bapaknya tersenyum dan berbisik.

“Syukur kamu sudah mendengar apa yang aku katakan. Mudah-mudahan nanti, setelah kamu dewasa dan mengerti apa yang aku katakan, kamu masih bisa tertawa.”

Duapuluh tahun kemudian, Merdeka tumbuh dan dewasa. Ia menjadi seorang anak muda yang gagah. Wajahnya cakap. Otaknya encer. Barangkali juga terlalu cerdas untuk ukuran seusia dia. Ia sangat enerjetik dan suka membantah.

Teman-teman Merdeka semua suka dan segan pada Merdeka. Tetapi guru-gurunya sebaliknya. Mereka kesal.

“Merdeka adalah seorang anak yang hebat. Dia jenius. Dia bisa menjadi pemimpin di masa depan untuk negeri ini. Jenis orang seperti Merdeka sangat kita butuhkan di zaman millenium ini. Tapi sayang dia terlalu PD,” kata guru-gurunya.

“Andaikan saja dia lebih rendah hati sedikit, dia tak ayal lagi bisa menjadi harapan kita semua,” lanjut gurunya yang lain. “Karena di masa globalisasi, ketika kita akan bersaing secara terbuka dengan seluruh dunia, kita memerlukan SDM yang canggih. Merdeka adalah contohnya. Tetapi sayang, dia terlalu cepat matang. Di dalam menuntut ilmu, mula-mula yang diperlukan adalah menyerap, bukan bersikap. Kalau belum apa-apa sudah bersikap, sebagaimana yang dilakukan oleh Merdeka, kita akan konyol. Kita tidak akan mungkin bisa maju. Lihat saja, di dalam ilmu pasti, pada dalil satu dan dua kita harus mau menerima saja dulu, tidak boleh membantah. Nah nanti sesudah dalil tiga boleh pertanyakan apa saja dengan logika. Sesudah menguasai ilmu, perkara mau mendobrak atau melabrak, itu terserah. Tapi tidak mungkin memberontak sebelum menguasai. Jadi Merdeka sudah salah paham.”

Merdeka tidak peduli apa yang dikatakan guru-gurunya. Ia lapar ilmu. Ia buka mulutnya lebar-lebar untuk mereguk. Dia tidak peduli sama sekali apa perasaan guru-gurunya. Kalai ia tak setuju, tanpa pertimbangan lagi ia protes. Tidak pandang tempat dan waktu, ia langsung dobrak.

Sebagai akibatnya, Merdeka dikenal sebagai anak yang berani. Ia ditakuti tetapi sekaligus dikucilkan. Guru-guru ngeper semua kalau ada Merdeka. Akhirnya karena kasus yang sangat sepele, Merdeka dipecat dari sekolah.

Ketika teman-temannya menamatkan pelajaran dan pada mengantongi ijazah, Merdeka hanya mengantongi pengetahuan. Tetapi ia tidak kecil hati. “Aku hanya memerlukan pengetahuan, aku tidak memerlukan ijazah,” katanya. Dengan bekal kepintarannya itu, ia terjun ke masyarakat dan mereguk hidup yang sebenarnya.

Di masyarakat, kenyataan berbeda dengan apa yang dibicarakan di dalam kelas. Walaupun semua orang setuju bahwa ilmu pengetahuan adalah utama, pada prakteknya, yang menentukan orang dapat pekerjaan adalah ijazah. Ke mana Merdeka pergi, dia selalu diminta untuk memperlihatkan ijazahnya sebelum mereka mau membuka pintu. Dan waktu mereka tahu Merdeka tak punya ijazah, pintu langsung ditutup.

“Boleh ngomong besar tapi mana bukti. Mana dokumen rekomendasi?”

Teman-teman Merdeka yang goblok, semua mendapat pekerjaan dan jabatan. Bahkan yang dulu lulus karena membeli ijazah dan nodong kepala sekolah, mendapat posisi penting. Merdeka melihat kejanggalan itu dengan jijik. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Kontan ia mencak-mencak, berkoar menggelar aksi protes. Tetapi kepada siapa? Ternyata semua orang hanya mengaku menyuarakan keadilan dan kebenaran. Bila waktunya tiba untuk menunjukkan aksi, semuanya punya alasan untuk menghindar. Bahkan surat-surat kabar yang paling vokal, tak berani memuat gugatannya, ketika itu menyentuh orang yang berkuasa yang mampu menyumpalnya dengan duit.

“Kalian semua hanya ngomong-ngomong muluk, prakteknya semua dagang. Segala kegombalan yang kalian maki-maki, nyatanya kalian kaji sendiri!” teriak Merdeka.

Merdeka mulai marah dan benci pada kehidupan, karena hidup berpihak pada ketidakadilan. Ia menjadi sinis dan apatis. Dunia yang dibayangkannya sebagai lautan harapan, sekarang sudah menjadi sarang kebobrokan. Masa depan hanya enak dalam obrolan, pada kenyataannya semua kentut.

Tetapi untunglah tidak semua yang hitam itu hitam. Rupanya di dalam belantara kebrengsekan itu, masih ada orang-orang yang idealis. Setelah kepalanya bonyok ditonjok oleh rasa kesal, Merdeka bertemu dengan seorang yang berpihak pada kebenaran.

“Memang ijazah itu perlu, karena itulah satu-satunya yang bisa jadi pegangan kita untuk memilih orang terbaik. Tetapi diploma sekarang gampang saja dipalsu. Dan keunggulan yang digaransi oleh sebuah ijazah pun hanya keunggulan di sekolah, sedangkan kita menggarap hidup keras di lapangan yang memerlukan siasat. Sesuatu yang lupa diajarkan di sekolah mana pun. Jadi saudara Merdeka, jangan merasa kesepian. Aku tidak buta. Aku melihat potensimu. Persetan dengan ijazah, bukan orang-orang yang bertopeng ijazah itu yang akan memperbaiki negeri ini, tetapi SDM hebat seperti kamu!”

Merdeka lantas dirangkulnya. Diberikan tanggungjawab untuk memimpin sebuah proyek raksasa yang menentukan nasib berjuta-juta orang. Merdeka disodori jabatan, kekuasaan dan harapan. Merdeka kontan sembuh. Ia terima jabat tangan itu dan siap hendak berpacu.

Tetapi apa lacur, pada hari pengangkatannya sebagai panglima proyek, orang yang merangkulnya muncul membawa segepok uang. Dengan muka manis tetapi malu-malu, ia menarik Merdeka ke sudut.

“Merdeka,” katanya seperti suara orang yang bersalah, “kita semua tahu, setiap orang mencari pekerjaan, untuk mendapatkan uang. Betul tidak?”

Merdeka mengangguk. Betul.

“Nah, berarti kamu juga bekerja untuk mendapatkan uang. Kalau uang yang kamu cari itu sudah kamu dapatkan, buat apa lagi pekerjaan. Ya kan? Jadi, lihat aku bawakan kamu uang banyak sekali. Terimalah uang ini. Dan serahkan jabatan yang sudah ada di tanganmu ini kembali kepadaku. Karena ada seorang anak pejabat yang memerlukan itu. Ia punya duit. Banyak sekali. Tetapi ia tidak punya kehormatan karena tidak ada jabatan. Ia membeli jabatan kamu. Jadi terimalah! Kamu untung dan aku juga untung!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, jabatan itu diambilnya kembali sambil menaruh segepok uang di tangan Merdeka. Sebelum Merdeka bisa mencegahnya ia sudah kabur. Merdeka menjadi histeris. Uang itu dicampakannya sambil mengumpat.

“Bangsat! Aku memang perlu uang. Aku tahu untuk hidup orang membutuhkan uang. Tapi aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup. Dan aku hidup untuk menjalankan amanat bapakku untuk membangun bangsa ini. Untuk menjadi manusia yang berarti dan berbuat kebajikan kepada negeri dan rakyatku!”

Suara Merdeka lantang dan jelas. Tapi orang idealis itu sudah ngibrit entah ke mana. Tinggal Merdeka yang sekarang benar-benar merasa nasibnya sangat sialan. Ia berteriak-teriak karena tak mampu lagi menahan dirinya. Orang-orang bilang bahwa anak muda itu sudah mulai terganggu.

“Kamu kelihatannya frustasi Merdeka,” kata seorang sahabat. “Di zaman edhan ini, siapa yang tidak frustasi. Kalau kamu ikutkan perasaanmu kamu akan gila. Tetapi semua orang memang sudah gila. Kamu tidak akan menjadi istimewa karena menjadi gila. Lebih baik kamu lawan semua itu!”

“Lawan? Lawan dengan apa? Musuhku tidak kelihatan. Kalau ada aku hajar sekarang juga!”

“Lawan dengan cara menerimanya! Pasrah!” Bersambung

Read Previous

Catatan Pinggir Asri Tawang “RASISME”

Read Next

BAGAIMANA MENGUKUR MUTU PENDIDIKAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *