fbpx

Celoteh Meong Palo Di Teras Rumah La Domeng “Belum Jadi Kutu Sudah Mau Loncat “

Mediakutim.com – Fajar sudah menerangi bumi. Seperti biasanya, setelah sholat subuh dan melakukan olahraga ringan, Meong Palo pasti mampir di rumah La Domeng. Maklum, pekarangan rumah La Domeng, sangatlah asri. Tanaman Bunga,tertata apik dan di teras rumahnya ada semacam panggung kecil. Di sinilah dua sahabat itu, sering berdiskusi sambil mencicipi kopi buatan Istri La Domeng.

Meong Palo : Meng …! Masih ingatkah Kau cerita penumpang gelap yang dilontarkan Prabowo Subianto pasca PILPRES kemarin ?

La Domeng : Pasti ingatlah Palo…Kan saya suka membaca berita. Jangankan membaca berita, membaca gerak tubuh manusia saja, saya mampu mengartikannya. Itulah sebabnya, banyak orang yang mengatakan saya ini ‘mucil’ alias suka kepoin orang.

Meong Palo : Salah satu kelebihan sekaligus kekurangan kamu itu Meng, adalah lain yang ditanyakan, lain yang kau jawab. Saya nanya tentang penumpang gelap, kamu jawab kelebihan dirimu. Mpus lee…Seandainya kelebihan dirimu itu positif, itu baik saja. Tapi kalau mucil dan suka ngurusi urusan lain. Apanya yang mau dibanggakan.

La Domeng : Nah kamu itu, pembicaraan saya baru koma, langsung kau veto. Kan apa yg saya sampaikan tadi itu, belum titik. Baru pembuka kesah. Nah saya lanjutkan ya ? Penumpang Gelap yang dimaksud Pak Prabowo itu, adalah sekelompok orang yang mengompor ngompori Pak Prabowo agar supaya pendukungnya turun ke jalan, tapi Prabowo menolak. Hanya sayangnya Pak Prabowo Subianto, tidak mau menyebut siapa siapa penumpang gelap itu.

Meong Palo : Ingatanmu tajam juga ya Meng ? Sangat detail. Tapi yg namanya penumpang gelap, tentu saja, tidak dapat disebutkan namanya….Namanya saja gelap.

La Domeng : Palo…Palo…Kan saya sudah katakan kalau ingatan saya kuat. Kamu ini seperti kawan saya di Batulicin yang selalu ” Kupadahi,tapi kada’ mateppek”

Meong Palo tertawa terbahak bahak mendengar istilah yang diucapkan oleh Meong Palo—Sudah Kupahi, tapi Kada meteppe’ itu.

La Domeng : Kalau dalam politik itu, yang namanya penumpang gelap itu selalu ada. Dan itu wajar saja. Namanya saja politik . Iyakan Palo ?

Meong Palo : Ya iyalah…masa ya iya dong ?

Kali ini, La Domeng yang tertawa. Terpingkal pingkal

Meong Palo : Tapi ada juga fenomena politik yang saya amati. Kalau penumpang gelap dalam politik itu wajar. Kalau politisi kutu loncat itu biasa. Nah yang saya amati ini, belum jadi kutu, dia sudah mulai ancang ancang kaki untuk melompat. Kalau politisi seperti ini, Kau kategorikan politisi apa Meng ?

La Domeng : Jika politisi yang belum jadi kutu, sudah mulai ancang ancang melompat itu, adalah politisi kaleng kaleng. Politisi yang mentalnya mental krupuk. Biasanya, politisi seperti ini, selalu mau diperhatikan dan diprioritaskan. Tapi ingat, kebanyakan yang seperti ini, orangnya gak bisa kerja. Dan jika diberi amanah dan gagal, selalu menyalahkan orang lain.

Meong Palo : Kau itu,Meng …? Bisa juga dikategorikan pengamat perilaku politisi.

La Domeng : Kan sudah kupadahi kau, tapi kau kada’ mateppe’

Kedua sahabat itu, tertawa terbahak bahak. Walau keduanya, sering mengurusi urusan orang lain, tapi dalam hal politik, mereka berdua selalu menjunjung tinggi yang namanya etika politik. Karena mereka tidak mau dikategorikan, “Belum Jadi Kutu, Sudah Mau Melompat”.

Read Previous

H.Kinsu Mengunjungi Pasar Induk Sangatta

Read Next

Menggunduli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *