fbpx

Akhirnya Presiden Jokowi Menetepkan Lokasi Ibu Kota Negara….La Domeng & Meong Palo, Sangat Setuju.

Presiden Jokowi, didampingi oleh Wapres Jusuf Kalla, Gubernur DKI Anies Baswedan, Gubernur Kaltim Isran Noor dan para menteri terkait, mengumumkan IKN. Lokasi yang dipilih adalah Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (KUKAR).

La Domeng : Alhamdulillah, Palo. Akhirnya Presiden mengumumkan lokasi Ibu Kota Negara, yang terletak di Kaltim. Yaitu PPU dan KUKAR.

Meong Palo : Sebagai warga Kaltim, Saya juga ikut bersyukur Meng. Tapi apa benar kalau Presiden kurang dapat masukan dari ahli tatanegara terkait tahapan tahapan pemindahan Ibu Kota ?

La Domeng : Aisss, itu pasti informasi yg disampaikan Fahri Hamzah kan ? Tidak usalah diperdebatkan itu. Yang penting intinya daerah kita menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Meong Palo : Saya tidak mau perdebatkan soal apa yg disampaikan Fahri Hamzah itu. Namun ada benarnya Fahri Hamzah itu

La Domeng ; Jangan jangan kau tidak setuju Ibu Kota Negara dipindah ke daerah kita ini

Meong Palo : Tidak ada satu alasanpun bagi saya menolaknya. Namun ini kan harus melalui kajian terkait ketatanegaraan kita.

La Domeng : Masalah urusan tatanegara itu, urusan orang orang pusat, kita tidak perlu terlalu jauh memikirkan itu. Apalagi kalau politisi yg bicara. Sudalah Palo, Tahu sama tahu saja kan kita itu. Coba kalau misalnya, Ibu Kota dipindah kekampungnya Fahri Hamzah, apa kira kira mau teriak seperti itu ? Jadi menghabisi bateray saja mendengar ocehan ocehan yg memojokkan Presiden itu.

Meong Palo : Kalau saya, setuju apa yg dikatakan Fahri Hamzah itu.

La Domeng : Tapi Kau setuju Ibu Kota dipindah ke Kaltim kan ?

Meong Palo : Sangat setujulah, lagian kalau kita ke Ibu Kota tidak perlu lagi naik pesawat. Naik sepeda motor saja, sudah sampai.

La Domeng : Nah….! Gitu dong.

Meong Palo : Iyalah Julak…Kan di Sepaku, ada tanah warisan nenek saya, lumayan siapa tahu bisa dibangun warung pecel lele

La Domeng : Tapi jangan dijual, nanti kau diteriaki Pak Isran sebagai tuan takur

Kedua sahabat itu,tertawa. Kopi yang terhidang dihadapan mereka pun, segera dihabisinya. Setelah La Domeng pamit pada Istrinya, mereka ngebut ke bukit warna warni.

(MK)

Read Previous

Menggunduli

Read Next

Ibu Kota Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *