fbpx

Celoteh La Domeng “ANTARA PANWASLUDES & PASUKAN BERANI MATI,TAKUT LAPAR “

Di desa tempat tinggal La Domeng dan kawan kawannya,tidak lama lagi akan digelar. Calon kepala desa yg awalnya malu malu menyatakan diri untuk maju sebagai calon kepala desa,sekarang sudah terang terangan menyatakan sikap dan mulai merekruit Team sukses. Salah satunya,La Domeng menjadi team sukses H.Ridwan Singa Karti.

H.Ridwan Singa Karti,adalah anak dari H.Supu Singa Gembara,yang dikenal sebagai tuan takurnya desa tempat tinggal La Domeng.

H.Supu Singa Gembara,sesungguhnya masih bisa mencalonkan diri,tetapi karena sudah merasa tua dan ingin pensiun dari dunia politik di desanya,maka atas kesepakatan keluarga,maka H.Ridwan Singa Kartilah yang didorong untuk mengikuti jejak Bapaknya sebagai pemimpin di desanya La Domeng.

“Kali ini,kita berseberangan Meng,” Tegur Meong Palo,ketika mereka berpapasan di Mulut Gang tempat tinggal Busu Koer.

” Berseberangan bukan berarti menghalangi silaturahmi kita kan Palo ?” jawab La Domeng

” Hahahahahaha….Ya Iyalah…masa gara gara politik,kita jadi Baper dan Bombe bombekan,Meng ? ” jawab Meong Palo sambil tertawa.

Busu Koer,yang sedang asik membersihkan halaman rumahnya,memanggil kedua sahabatnya itu,saat melihat keduanya asik ngobrol di mulut Gang Rumahnya.

” Meng…! Palo…! Ngobrolnya di sini saja,” teriak Busu Koer sambil melambaikan tangannya

” Siap Busu…!” Jawab La Domeng. ” Yang penting siapkan juga kopinya” Kata Meong Palo,menambahkan.

” Wah wah…Terus terang saja,Busu ini,salut pada kalian berdua.Kenapa Busu salut kepada kalian,karena walaupun kalian berbeda pilihan di PILKADES yang akan datang,tetapi persahabatan yang kalian miliki berdua,tidak terganggu.Tetap saling menyapa dan tetap akur,” Puji Busu Koer kepada Meong Palo dan La Domeng sambil menepuk pundak kedua sahabat itu saat membimbingnya masuk ke dalam rumah.

Saat Meong Palo ,duduk di kursi tamu empuk Busu Koer,dia pun berkata ” Busu Koer…! Berapa banyak jiwa yang melayang saat Mahasiswa melakukan demo untuk turunkan Soeharto,karena dianggap pemerintahannya tidak demokratis dan sangat otoriter. Lalu ketika roh demokrasi itu,berhasil kita tempatkan sebagai nyawa dalam memilih pemimpin,masa mau dirusak hanya karena beda pilihan ?”

” Sesungguhnya,Kami berdua,mencoba menjaga demokrasi di desa ini.Apa yang kami lakukan dalam perbedaan itu, supaya dicontoh juga,para calon kepala desa yang ingin bertarung. Tidak justru menjadi kandidat yang BAPER,dengan melarang teamsuksenya berdiskusi dengan teamsukses kandidat lainnya. Menjadi calon kepala desa,tidak boleh egois,memikirkan diri sendiri atau golongannya,” Kata La Domeng,menyambung apa yang dikatakan Meong Palo kepada Busu Koer.

Jadi …Kata La Domeng,melanjutkan, ” Calon kepala desa, adalah cita cita yang baik,cita cita luhur yang dimiliki para kandidat. Mereka,para Calon kepala desa itu,adalah orang orang yang mendapat karunia dari Allah.Mereka diberi kecerdasan dan kepintaran dan kebajikan di dalam hatinya.Mereka rela mengorbankan harta bendanya untuk menjadi kepala desa. Tujuannya untuk apa ? Untuk membangun desa ini,agar rakyat desa ini sejahtera.Kalau misalnya calonnya Meong Palo,BAPER karena saya berdiskusi dengannya,malah saya kuatir,dia tidak memahami demokrasi sebagai salah satu pilar yang harus terus dijaga dan diperjuangkan di desa ini.”

“Tumben tumbennya Meng…kamu serius bicara tentang demokrasi,” Kata Meong Palo,sambil menikmati singkong rebus yang dihidangkan oleh mbok mila,istri Busu Koer.

“Sesekali lah Meong Palo,biar Busu Koer tahu,kalau saya bisa juga menarasikan gagasan demokrasi yang ada di kepala orang desa ini,” jawab Meong Palo.

“Tapi sayangnya,demokrasi kita,masih diwarnai praktek praktek kotor oleh sebagian kandidat.Mereka menghalalkan segala cara,untuk memenangkan pertarungan.Masyarakat digiring menjadi pemilih pragmatis.Istilah kasarnya,masyarakat disogok dengan amplop berisi uang,dan disuguhi janji janji yang tidak rasional. Seperti kita di desa ini,dulu janjinya H.Supu Singa Gembara akan memberikan dana ke RT 25 juta setahun,jangankan 25 juta,dana untuk keperluan administrasi RT saja, mandek mandek. Hal seperi ini yang sesungguhnya tidak mendidik pemilih kita di desa ini.Seharusnya calon kepala desa itu,menjual gagasan yang original dari pemikirannya,bagaimana membangun desa ini,agar bisa sejahtera,” Ujar Busu Koer,menambahkan pendapatnya terkait prilaku pemilih di desanya.

” Itu sebuah kenyataan yang sampai saat ini,belum bisa diformulasikan solusi yang tepat untuk menghindari praktek politik uang di setiap ajang kontekstasi politik di desa kita ini. Ada PANWASLUDES,tapi kadang mereka,juga dikooptasi oleh kepentingan kandidat lain,”jawab Meong Palo.

” PANWASLUDES ?” Tanya Meong Palo ” Makksudmu apa itu Meong Palo ?’

” Itu Lho Meng…Pengawas Pemilu Desa.Kata Ludes di situ bukan bermakna habis…Hehehehehe” Jawab Meong Palo sambil tertawa penuh makna.

” Maksudnya habis dimakan oleh pasukan berani mati tapi takut laparkah Palo ?” celetuk Busu Koer.

” Nah apa pula maksudnya Busu Koer itu, Berani Mati,Takut Lapar ?” Tanya Meong Palo dan La Domeng bersamaan.

” Itu lho…beberapa kelompok masyarakat yang Busu amati.Mereka mengeluh,dan mulai mencibir kandidat yang mau bertarung di PILKADES .Katanya, si Anu itu,banyak janji saja.Dan nanti,tidak akan memilih lagi. Jadi …Busu katakan ke mereka, kalian ini, adalah pasukan berani mati tapi takut lapar. Buktinya kemarin,saat pemilu legeslatif,kalian bilang tidak akan memilih lagi si Baso. Buktinya si Baso terpilih lagi,karena kalian diberi amplop,” Kata Busu Koer Menjelaskan.

” Pasukan Berani Mati Takut Lapar,Hahahahahaha,” Ruang tamu Busu Koer,kembali dipenuhi tawa.Istri Busu Koer pun ikut tertawa sampai sampai gigi palsunya copot,yang membuat ruang tamu itu,semakin heboh.

(Om Wp–MK)

Read Previous

H.Irwan mengucapkan Selamat ulang tahun kepada SBY, dan dirgahayu ke 18 untuk Partai Demokrat

Read Next

SALAH KETIK ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *