fbpx

Celoteh La Domeng “Bibir La Domeng Bengkak,Sapi Dan Kebun Pun Hilang”

Saat itu,sangata masih sepi.Rumah penduduk diibaratkan masih bisa di hitung jari.Walaupun sudah menjadi Ibu Kota Kabupaten,jalan poros yang menghubungkan antara Gang yang satu dengan Gang lainnya, hanya Jalan Yos Sudarso.Pun satu satunya tempat nongkrong yang baik saat itu,hanya di Town Hall.Sengaja dibangun oleh PT.Kaltim Prima Coal,salah satu tambang batu bara terbesar di Asia Tenggara.

La Domeng dan Meong Palo,yang sudah lama tinggal di Sangata, keduanya sebenarnya memiliki peluang untuk bekerja di perusahaan tambang itu. Entah mengapa mereka tidak berminat,dan lebih senang menjadi pengangguran.Atau bisa jadi karena waktu itu,La Domeng belum berkeluarga,dan Meong Palo,masih sangat remaja.

Alkisah,kedua sahabat ini,duduk di teras pondok Busu Koer,di bilangan gang Dayung.Gang Dayung waktu itu,hanyalah berupa hutan gundul yang hanya ditumbuhi rumput ilalang raksasa yang jika musim kemarau terbakar habis.Entah sengaja di bakar atau gesekan dahan kering yang membuat nyala api.Tapi entalah.

Di teras pondok Busu Koer,La Domeng mengajak Meong Palo ke hulu sungai sangata,yang konon ceriteranya terdapat banyak emas dan guci Dinasti Ming dari negeri Cina. Kata La Domeng,ceritera itu dia dengar dari beberapa orang tua,penduduk asli Kutai Sangata,yang tinggal di Sangata seberang.

” Saya setuju Meng…! Siapa tahu nasib kita baik,kita bisa kaya raya,jika mendapatkan emas,seperti yg diceritakan orang tua itu kepadamu,” Kata Meong Palo,penuh semangat.

” Apa Kau sanggup berjalan kaki dua hari dua malam,itu pun melalui hutan belantara dan menyusuri sungai Sangata yang banyak buayanya itu,” Jawab La Domeng.

“Jangankan dua hari dua malam,tujuh hari tujuh malam pun saya sanggup.Kalau soal buaya,kecil itu.Nanti saya bawa keris penakluk buaya yang dimiliki Bapakku,pemberian nenekku dari Sulawesi.” Tantang Meong Palo.

” Baiklah kalau Kau nekad mau berangkat.Tapi berangkatnya hari Sabtu.Karena malam Jum’at,kita adakan ritual dulu.Maccera’ kata nenek nenek kita di kampung. Siapkan saja ayam kampung yang warna kakinya hitam.Itu syarat saja,agar diperjalanan,kita terhindar dari gangguan binatang buas,” Jelas La Domeng.

” Wah…Benar benar recana yang sempurna ini Meng.Kebetulan di rumah,saya memelihara ayam yang kakinya hitam.”

“Sip…!” Seru La Domeng.”Jadi barang ini.Yakin jadi,Pokoknya jadi,” Kata La Domeng,sambil memeluk tubuh Meong Palo.

Keduanya sangat optimis,akan apa yang dilakukannya,pasti berhasil.Apalagi semua persyaratan untuk mencapai hulu sungai Sangata itu,sudah tersedia.

” Meng…? ” Tanya Meong Palo, ” Kalau kita dapat emas yang banyak.Kau akan apakan emas itu.”

“Saya akan jual, dan harga emas itu,akan saya beli lahan seluas luasnya.Lahan itu,akan saya jadikan kebun aneka tanaman,termasuk kebun sayur-sayuran. Kalau kau Palo, Kau apakan nanti uang dari hasil penjualan emas itu,”La Domeng balik bertanya ke Meong Palo.

“Kalau Saya,” Jawab Meong Palo.” Saya akan beli sapi sebanyak banyaknya.Dan juga Kambing.Di situlah orang akan tahu,kalau Meong Palo ini,adalah pemilik ternak terbanyak di Kaimantan Timur,” Kata Meong palo,sambil menepuk dadanya.

” Tidak boleh…!” Bentak La Domeng.

” Apa hak kamu melarang saya Meng ? Toh uangnya sudah kita bagi rata kan ?” Meong Palo,balik membentak La Domeng.

“Masalahnya,sapi dan kambingmu,memakan semua tanaman yang ada dikebunku.”

“salah Kau,,,Kenapa berkebun,tapi tidak Kau pagar?”

” Bukan salahku,Kaulah yang salah.Kenapa Sapi dan Kambingmu tidak, Kau ikat?”

Kedua sahabat itu bersitegang,Keduanya tidak mau mengalah.Tiba tiba La Domeng,menjerit kesakitan,karena tinju Meong Palo,baru saja tepat mendarat dibibirnya. Darah tercecer dimana mana.

Mendengar jeritan La Domeng,Busu Koer yang lagi asik mencangkul lahan di samping pondoknya,untuk ditanami sayur dan cabe,segera berlari ke arah teras.

“Astagafirullah….Apa yang terjadi Meong Palo ?” Sergah Busu Koer sambil menggoyang goyangkan punggung Meong Palo.

” Dia kurang ajar Busu,” Jawab Meong Palo,sambil menunjuk La domeng yang masih meringis,menahan rasa sakit. ” Masa dia tuduh sapi dan kambing saya yang memakan semua tanaman yang ada di kebunnya,”Ujar Meong Palo.

“Kebun siapa ? Dimana ? Sapi dan Kambing bagaimana ?” tanya Busu Koer,kebingungan.

Meong Palo pun,akhirnya menjelaskan kepada Busu Koer,bahwa mereka akan ke Hulu Sungai Sangata,mencari emas.Dan ketika emas itu didapatkan,mereka akan menjualnya.Hasil penjualan emas itulah nantinya yang akan mereka belikan kebun dan sapi.

” Ya Allah,Ya Rabb. Kalian ini menghayal.Pasti La Domeng yang menceriterakan emas yang di hulu sungai Sangata itu.Itu hanya mitos.Jangan dipercaya.Coba lihat akibatnya.Akibat hanyalan kalian tinggi,akhirnya apa yang terjadi. Kawan kamu sendiri yang jadi korban,” terang Busu Koer,setelah mendapat keterangan dari Meong Palo,kenapa sampai bibir La Domeng pecah.

Model anak muda seperti kalian ini,kata Busu Koer, adalah anak muda pemalas.Tidak mau bekerja,tapi mau kaya raya. Kalau kalian berdua,tidak merubah prilaku malas kalian berdua,sampai tua,kalian akan seperti ini. Kalian bagaikan burung pungguk merindukan bulan.

Setelah mendamaikan keduanya,Busu Koer melanjutkan kerjanya.Mencangkul tanah di samping rumahnya. Sambil menancapkan mata cangkulnya ke dalam tanah,Busu Koer berucap ” Bibirmu bengkak,kebun dan sapi serta kambingpun hilang di telan hayalan.”

(Om Wp-MK”

Read Previous

SALAH KETIK ???

Read Next

Masih Teka Teki : Siapa Pria Yang Melompat Di Jembatan Pinang Sangatta ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *