fbpx

Melacak Tempat Mandi Kuda (Bagian III)

Setelah dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, 21 Mei 1998, menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri, saya yang ketika itu menjadi wartawan Harian “Pedoman Rakyat” berhari-hari meliput di Parepare. Tugas saya adalah mendatangi rumah, tempat keluarga Habibie tinggal pada masa kecil. Mewawancarai orang-orang yang pernah menyaksikan masa kecil Habibie di Parepare.

Yang tidak kalah menarik, saya juga harus melacak lokasi yang biasa dipakai Habibie memandikan kudanya di sebuah desa di dekat Palanro Kabupaten Barru. Ada sebuah sungai di situ, yang selalu dijadikan oleh Habibie membawa kudanya jika hendak dimandikan. Saya sudah lupa apa nama desa tersebut. Tugas saya adalah mendeskripsi sungai yang tentu saja sudah kian sempit dan bertanya pada orang tua-tua di situ, apakah mereka mengenal nama seorang Habibie puluhan tahun silam.

Gelar Doktor HC

Meskipun Habibie sudah meraih gelar doktor secara akademik dengan yudisium “summa cumlaude” di Jerman, namun Universitas Hasanuddin pada tahun 2006 menganugerahinya dengan gelar Doctor Honoris Causa. Tim Promotor terdiri atas tiga orang maha guru Unhas, yakni Prof.Dr.Halide, Prof.Dr.Ir. Muslimin Mustafa, M.Sc., dan Prof.Dr.Ir. Ananto Yudono, Meng, serta Prof.Dr.H.Sangkot Marzuki dari Lembaga Eijkman Jakarta.

Ada tiga cita-cita BJ Habibie yang perlu ditularkan, yakni mengabdi kepada bangsa Indonesia dengan penuh tanggung jawab dan semangat; menguasai penggunaan materi dengan menggunakan teknologi canggih, menguasai penjualannya, menguasai purnajual, sehingga Indonesia terlepas dari ketergantungan pada bangsa lain; dan mengembangkan masyarakat teknologi dalam artian sadar akan tujuan dan manfaat teknologi dengan membentuk lapisan masyarakat ahli teknologi dan teknisi berintikan 1/1000 dari penduduk Indonesia.
Habibie pada tahun 1996 mendeklarasikan “Benua Maritim” dalam suatu konvensi di Makassar yang mendefinisikan bahwa benua maritim adalah satu kesatuan alamiah antara darat, laut, dirgantara di atasnya yang tertata secara unik,

Kini, pria genius kelahiran Parepare 25 Juni 1936 tersebut telah tiada. Anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie, yang berprofesi sebagai ahli pertanian, dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo itu merupakan bapak demokrasi Indonesia, Di kalangan pers, di bawah kepemimpinannya dengan Menteri Penerangan M.Yunus Yosfiah, membuka kran kebebasan pers yang lapang dan luang. UU Pokok Pers No.40 Tahun 1999 merupakan produk pemerintahannya meski hanya berusia 507 hari.

Di Kota Parepare, tempat kelahirannya, sejak Rabu (11/9/2019) malam sudah berkibar bendera setengah tiang di Balai Kota Parepare. Di kota itu, sudah ada Monumen Cinta Habibie-Ainun yang jadi objek wisata masyarakat. Pemerintah Kota Parepare di bawah pimpinan Dr.H.M.Taufan Pawe, S.H., M.H. menyiapkan lokasi sebagai “Museum Habibie”, tempat masyarakat dapat menyaksikan berbagai penghargaan dan warisan mendiang Habibie. Namun yang sangat dinanti-nantikan adalah terwujudnya Institut Teknologi Habibie (ITH) yang sebenarnya sudah memiliki Kepres pendiriannya yang keluar pada tahun-tahun terakhir Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia.

Sembari menunggu rampungnya rumah sakit cantik yang tegak di sisi timur pantai Teluk Parapare yang bakal dilabeli nama “Hasri Ainun Habibie”, kita berharap ITH segera terwujud dan beroperasi. Kehadirannya akan melangkapi fasilitas rumah sakit yang digagas Dr.M.Taufan Pawe dan “groundbreaking”-nya dilakukan Dr.Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si, M.H. ketika menjabat Gubernur Sulsel tiga tahun silam.

Selamat Jalan Bapak Demokrasi Indonesia. (MDA).

Oleh Dahlan Abubakar

Read Previous

Teater Rakyat Kondobuleng Tiba Di Kota Tepian Samarinda

Read Next

Kutitip Hatiku Di Kappuna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *