fbpx

Kutitip Hatiku Di Kappuna (Bag.IV)

Kutitip Hatiku di Kappuna – Penulis : Asri Tawang

Untung dan Wahyu,memandangiku.Mereka berdua,kehilangan konsentarasi dalam mengerjakan tugas pekerjaan rumah yang kami kerjakan.Wahyu yang sedari tadi ingin bicara namun segan karena Kakak angkatku mengawasi kami saat belajar.Dia duduk,bagai mak lampir yang duduk di sofa kerajaannya.Sesekali mendehem, kala mendengar kami bicara di luar mata pelajaran yang kami kerjakan.Wahyu menyodorkan secarik kertas.Aku menggeleng saat tulisan di atas kertas itu aku baca.

” Siapa ?” Tanya Untung,sehabis pamit pada Kakakku.Mereka buru buru pulang,karena suara petir menggelegar. Kilatan cahaya petir,menyambar gelapnya malam. Nampaknya hujan mau turun.Bersyukur,karena PR yang kami kerjakan sudah selesai.

” Pulanglah.Hujan sudah hampir turun.Besok,di sekolah,saya sampaikan siapa wanita itu,”bisikku kepada Untung.

Setelah kedua sahabatku hilang dari pandangan mataku,rintik hujan sudah mulai membasahi tanah kelahiranku,Palopo. Kakakku yang sudah berada di kamar tidurnya,menyuruhku mematikan lampu petromax dan menggantinya dengan lampu templok. Berulang-ulang mata ini coba kupejamkan,namun tak membuatku segera terlelap.Hujan deras yang biasanya membuatku segera tertidur,tak mampu mengalahkan hadirnya wajah Moniraga dalam pikiranku.

Apakah setiap laki laki yang baru pertama kali jatuh cinta pada seorang gadis,selalu dihantui banyak pertanyaan? Apakah Mori,masih sendiri? Bagaimana kalau puisiku ditolaknya? Jika Mori mau menerimanya,apakah Mori mau membalasnya ? Apakah balasannya mengisyaratkan cinta ?Aku kemudian bangkit dari tempat tidurku,mencoba membunuh pikiranku yang liar,yang berkelebat ke sana ke mari.Puisi itu,Aku baca berulang ulang dalam cahaya lampu teplok yang ada di kamarku.

“Antoooooo…Bangun…!” Samar ku dengar suara kakakku,memanggil dari luar diiringi gedoran pintu.Aku tersentak,kaget.Puisi untuk Mori,yang berulang aku baca semalam,tergelatak di sampingku.Bersyukur tidak lusuh.

Aku segera bergegas ke sekolah.Melawati jalan pintas,menyusuri pinggir sungai tembus di jembatan Kampung Pisang. Jembatan yang di pagi hari,selalu ramai di jejali anak sekolah menuju ke sokolahnya masing masing.Dari jauh,pak Yohanis sudah melemparkan senyum khasnya,ketika melihatku memasuki halaman sekolah. Aku melambaikan tangan.Saat Dia mendekat,dua batang rokok kretek kuselipkan di telinganya.Rokok titipan dari kakak iparku.

Melewati depan kelas Mori,dadaku berdegup kencang.Kuputuskan saja mempercepat langkah kakiku.Tiba tiba,langkahku terhenti,karena persis di depan pintu kelas Mori,seorang wanita muncul.Dan itu Mori.Hampir saja,kami bertabrakan.Dia nampak gugup,Aku pun demikian. Namun kedua tangannya telah menahan dadaku.Harum aromah tubuhnya,menyeruak masuk ke dalam syaraf syarafku,” Maaf,” kataku,”Saya terlalu tergesa gesa berjalan dan hampir saja menabrakmu,” kataku lagi,sambil memundurkan badan agar kedua tangannya terlepas dari dadaku. ” Tidak apa apa kak,”jawab Mori,” Saya juga salah,karena nyelong saja ke luar kelas,tanpa hati hati,” lanjut Mori. ( Bersambung )

Read Previous

MENYOROT KINERJA WAKIL RAKYAT

Read Next

Kapolri Copot Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Pol Iriyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *