fbpx

Duka Anak Laut Mengenang RANDI (PUISI)

Foto- Rzl Mediakutim.com

Anak Laut itu tumbuh di tanah cadas bebatuan pantai Lakarinta-Witeno-Wuna.

Tumbuh dari singkong dan jagung yang mampu menembus cadas dan air laut yang menggarami hidupnya.
Tanpa keluh tanpa kesah menjalani hidup yang memang keras dari awalnya.

Di mata La Sali dan Wa Nasrifa dia adalah Matahari di antara Empat Bulan belahan hati.

La Sali tekun mengajari Matahari -nya arah angin dan riak gelombang agar mampu membaca laut.

Wa Nasrifa tekun membimbingnya mengenal aksara, semampu yang dia pahami.

La Sali sadar, membaca laut dengan hanya bermodal dayung dan kail tidak akan memuliakan Matahari-nya.

Satu-satunya asa, hanya pada ketekunan dan kekerasan hati Matahari-nya.

Sang Anak Laut, tumbuh sesuai kehendak alam, menembus cadas menyelami karang.

Sang Anak Laut tidak bermimpi menjadi Matahari, tapi di lubuk hatinya, dia bertekad meninggikan tiang perahu ayah-nya, melebarkan dapur ibu-nya, meluaskan pikiran kakak dan adik perempuan-nya.

Lewat Bidik Misi, dia awali perantauanya, mengejar matahari, menyelami cara memuliakan ikan, bahkan disambi dengan menjadi kuli bangunan, demi doa dan harapan orang tua.

Hari Kamis, 26 Sep 2019, Pantai Lakarinta tenang, angin semilir memanjakan ikan yang melompat riang di balik matahari sore.

La Sali sedang melaut dengan kail dan jaring satu-satunya, demi Matahari dan Dua Bulan yang merantau.

Burung laut, bersuara lirih menghampiri perahunya, tapi tak dihiraukan karena angan-nya dipenuhi Matahari dan Dua Bulan di tanah rantau.

Dia tambatkan perahunya, lalu menuju rumah dengan menghitung langkahnya.
Tapi kali ini berbeda, karena kerabat menjemput-nya dalam diam.

“Ohae Ini – Ohae Ini?” (Ada apa ini-Ada apa ini?)
Tak ada suara-Tak ada jawaban.
Laut Nusantara tiba-tiba dingin, ikan terdiam, nyiur menunduk.

Anak Laut itu, melejit jadi MATAHARI, membumbung menyebar sinarnya, melelehkan bedil yang merenggut raganya.

Jiwa-nya tetap HIDUP!
Bergemuruh di dalam dada anak negeri yang menolak bersekutu dengan kebohongan dan kepalsuan.

Jakarta, 29 Sep 2019
-Laode M Syarif-
Duka Anak Laut-Mengenang Randi

Dibacakan oleh Asri Tawang

Read Previous

Demo Ricuh di Jalan Tol PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menutup Stasiun Palmerah

Read Next

Kutitip Hatiku Di Kappuna (Bag V)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *