fbpx

Kutitip Hatiku Di Kappuna (Bag V)

Kutitip Hatiku di Kappuna – Penulis : Asri Tawang

Aku meninggalkan Mori yang masih berdiri di depan kelasnya.Wajahnya bersemu merah,setelah Aku minta maaf dan mengatakan dia cantik,manis dan gadis yang sempurna.

Sambil berjalan menuju kelasku,Aku memikirkan pertemuan dadakan dua hari ini.Pertemuan itu bagiku bagai air sungai Latuppa yang mengalir menuju sungai Amassangeng,membelah kota Palopo yang akhirnya bermuara di laut teluk Bone. Teluk yang lautnya memberi kehidupan masyarakat pesisir Palopo yang bermukin di kampung Penggoli dan Ponjalae.

Hari memang masih terlalu pagi,ketika Aku tiba di Sekolah.Satu persatu kawan kawanku,memasuki kelas,termasuk juga Untung yang kemudian di susul oleh Wahyu. ” Siapa ?” Kata Untung yang ingin segera mengeahui gadis yang telah diisinkan Aku pacari oleh Kakak dan Iparku.”Morinaga,” jawabku.”Tapi jangan disampaikan dulu ke kawan kawan lainnya.Masalahnya,Aku belum mengutarakan isi hatiku,” Kataku kepada Untung dan Wahyu,agar merahasiakan kepada kawan kawan lainnya.

Mereka berdua,kemudian tertawa.Tertawa lepas,bagaikan lepasnya seonggok olok olokan yang tertuju kepadaku.” Anto…! Mori itu,susah di dekati.Orangnya sombong dan sangat cuek.Mungkin karena Dia cantik,maka tingkah lakunya seperti itu.Sudah banyak cowok di sekolah kita ini,menelan kekecewaan, dicuekin oleh gadis Kappuna itu,” seru Wahyu, ” dari pada Kau kecewa,mending cari yang lain saja.” Kata Untung menimpali perkataan Wahyu.

” Jujur saja,”kataku. “Aku baru dua kali melihat Mori di Sekolah ini.Kemarin dan hari ini.Dari pertemuan itu,nampak kalau Mori gadis yang baik.Tidak sombong dan cuek seperti penilaian kalian,”tuturku menambahkan, membela Mori.

” Ya Ilah,diberitahu tidak mau percaya,”kata Wahyu. ” biasa yu,kalau orang lagi jatuh cinta,begitu sudah adanya.Sahabat sendiri tidak mau didengarkan,” celetuk Untung,sambil tertawa. ” Nah itu,muchlis,Sadri dan Herman,” Kata Wahyu menunjuk ketiga anak kelas tiga yang berdiri di depan kelasnya itu.” Mereka bertiga itu,korban Mori.Ketiganya,ditolak cintanya.Apa Kau mau jadi korban ke empat ?”tanya Wahyu.

“Bagaimana kalau Aku mampu menaklukkan hatinya,”jawabku menantang kedua sahabatku itu,walau sesungguhnya,di dalam hatiku ada rasa ciut juga setelah mendengar ceritera mereka.

” Okey…Kami berdua,akan mentraktir Kau makan di kantin Pak Battu,selama seminggu.Itu kalau Kau menang.Namun kalau Kau kalah,kami yang minta ditraktir.”

” Baiklah,” jawabku.”Tapi beri Aku kesempatan selama satu Minggu.Kalau gagal,Aku yang mentraktir kalian berdua.”

Pak Yohanis,telah memukul bel Istirahat.Aku,Wahyu dan Untung segera meninggalkan kelas.Samar samar terdengar suara dari pengeras suara dari kantor tata usaha sekolah,kalau hari ini mata pelajaran di kelas masing masing agak terlambat,karena ada rapat di ruang guru.Siswa tidak diperkenankan meninggalkan sekolah,sampai jam pulang seperti hari hari biasanya. Ketua Osis dan seluruh ketua kelas,diajak juga untuk ikut rapat,dalam rangka persiapan perkemahan yang akan diadakan di sekolah. Aku kemudian membathin.Ini kesempatan bagiku untuk mendekati Morinaga.Wahyu dan Untung, mengajakku ke kantin Pak Battu.Tapi Aku tolak dengan alasan untuk menjalankan misi mendekati Mori.

” Asikkkkkk,,,! Semoga sukses ya ?” Kata Wahyu yang kemudian bersama Untung dan kawan kawan sekelasku, meninggalkanku sendiri di dalam kelas.

Kertas yang berisi puisi untuk Morinaga,Ku ambil dari lipatan buku catatan harianku.Dan dengan langkah yang pasti,Aku menuju kelas Morinaga.

” Hey Yati,” kataku,menyapa Yati ketika Aku melihatnya sedang ngobrol berduaan dengan Mori,di dalam kelasnya. “Hey Kak,Anto,”jawab Yati sambil mengulurkan tangannya kepadaku.” Nah ini,kak Anto,yang menanyakan Mori,kemarin Yang baru kita bicarakan barusan,” lanjut Yati sambil memperkenalkan Mori kepadaku.Sekejab Ku lihat tangan Mori,mencubit lengan Yati. ” Kami sudah kenalan kok,”kataku,sambil mengulurkan tangan ke Mori.

Yati,kemudian meninggalkan Aku dan Mori di dalam kelas.Beberapa siswa lainnya yang berada cukup jauh dari kami,hanya berdehem,sambil senyum senyum.Tak lama kemudian,mereka menyusul Yati ke luar dari kelas. Aku dan Mori,kini hanya berdua.

” Mori….?” Kataku,memecah suasana yg mulai terasa kikuk di dalam kelas itu.”Aku hanya mau memberikan ini padamu,sebuah puisi untuk Mori,yang Aku tulis kemarin saat pertama kali kulihat dirimu di depan kelas ini” tuturku kemudian,sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna merah jingga.

” Terima kasih Kak Anto.Kebetulan Saya juga suka baca Puisi,” kata Mori

” Suka baca puisi,atau suka penulis puisinya,” jawabku sambil tertawa,” tapi puisi itu,jangan di baca di depan kelas,bacalah saat Mori sudah di rumah.”

“Ackh…Kakak ini,ada ada saja.Suka baca puisi dan suka kepada penulis puisi itu,berbeda,” Kata Mori,kemudian memasukkan puisi itu ke dalam tasnya.

” Baiklah dek Mori.Aku tinggal dulu ya ? Mau nyusul Wahyu dan Untung yang sudah menunggu di kantin Pak Battu.Dek Mori,mau ikut ?”

“Terima kasih Kak,Saya belum dibolehkan dokter untuk jajan di sekolah,”jawab Mori.

Aku meninggalkan Mori,sendirian dalam kelasnya.Misi pertamaku sudah sudah selesai.Saatnya menyusul Wahyu dan Untung di Kantin. ( Bersambung )

Read Previous

Duka Anak Laut Mengenang RANDI (PUISI)

Read Next

Apakah Hubungan Megawati dan Surya Paloh,Retak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *