fbpx

Kutitip Hatiku Di Kappuna ( Bagian VI)

Kutitip Hatiku di Kappuna – Penulis : Asri Tawang

Aku hanya bisa mengangkat bahuku,dan menengadahkan kedua tanganku,saat Untung menatapku. Wahyu yang memahami gerak tubuhku kemudian berkata ” Kan kami sudah ingatkan,kalau Morinaga itu,susah di dekati lelaki.Nah…! Kau gagal kan ?”.

“Gagal ? Tidaklah Mas Wahyu.Permainannya kan baru dimulai,” Kataku meyakinkan ke dua sabatku itu.

” Yang benar,”Kata Untung,sembari menyodorkan kursi kosong yang ada di dekatnya.

” Lha kan sudah Aku katakan,beri Aku waktu seminggu memperjuangkan cintaku pada Mori. Kalau dalam seminggu Aku gagal,maka Aku akan traktir kalian.Tapi kalau Aku berhasil kalian yang akan mentraktir Aku dalam sebulan.Itu kesepakatannya kan ?”.

Kedua sahabatku itu,saling berpandangan.Sepertinya mereka mulai yakin kalau Aku bakal jadian dengan Morinaga.

Sehari setelah puisi itu sampai ke tangan Morinaga,Aku mulai merasa was was.Pikiranku dipenuhi tumpukan pertanyaan.Mengapa hari ini,Mori belum membalas puisi yang Aku tulis untuknya.Apakah Mori hanya senang baca puisi namun tidak dapat membaca puisi ?

Di saat pertanyaan pertanyaan itu,menghunjam rongga kepalaku, Aku mulai merasakan keraguan menyelusup ke dalam ruas ruas dadaku,namun jiwaku terus menerus menolak setiap keraguan itu ketika bermain main dalam napas dan pikiranku.

Sama seperti malam ini.Malam ke dua dimana puisi yang kutulis itu,sudah berada di tangan Morinaga.Pertanyaan pertanyaan serupa terus memburuku.Malampun semakin larut,suasana sepi,di dalam rumah tertelan oleh keheningan.

” Sebagai lelaki Kau harus berani mendatangi Morinaga,” bisik untung,yang tak tahan melihat kegelisahanku dalam kelas.

Aku menyikut Untung, karena suara desisnya hampir saja terdengar oleh guru paedagogik yang sedang menerangkan tentang Kompetensi Pedagogik.

Mata Ibu Saddiah,guru paedagogik menangkap gerak gerik yang Aku lakukan terhadap Untung. Dalam sorot matanya yang tajam,Ibu Saddiah mendekati meja belajarku,kemudian menyuruhku mengulang apa yang baru diterangkannya.

” Coba Anto,,,! Jelaskan kembali apa itu kompetensi Paedagogik,” kata Ibu Saddiah.

“Kompentisi paedagogik,harus mutlak dikuasai oleh seorang guru.Kenapa kompetensi ini harus dikuasai oleh seorang guru,karena kompetensi Pedagogik inilah pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya dan akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran peserta didiknya,” jawabku tanpa ragu.

” Tepat..! ” seru Ibu Saddiah,salah satu guru yang cukup di segani di SPG Neg 125 palopo itu. ” Kalian sebagai calon guru,harus paham betul apa itu kompetensi paedagogik” tutur Ibu Saddiah,sambil menghadiaiku jempol. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala tanda hormatku pada Ibu Saddiah. Namun dalam hati Aku bersyukur karena minggu lalu,Aku sempat berdebat dengan Ilham Nur yang membahas masalah kompentensi paedagogik ini.

Rasanya jantungku mau copot,saat Hayati teman sekelas Morinaga menghampiriku saat jam istirahat. Yati menyerahkan amplop warna pink.

” Ini dari Mori,” kata Yati.
” Terima kasih ya dek …? ” jawabku, saat Yati sudah berbalik arah meninggalkan diriku dalam hati bercampur aduk.

Aku kemudian,berlari ke dalam kelas.Ku buka perlahan amplop dari Morinaga. Lalu membaca balasan puisi yang ditujukan padaku ( Bersambung }

Read Previous

Trias Politika hanya sebuah opini

Read Next

MENJADI PEMILIH CERDAS PADA PILKADA SERENTAK TAHUN 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *