fbpx

PRASANGKA

Syahrir Patakaki

Oleh – Syahrir Patakaki

Matahari beranjak merunduk ke barat, sore pun tiba di rembang petang. Di beranda depan rumah Mari, terdapat sepasang kursi teras dari plastik dan sebuah meja, di tempat ini para penghuni rumah sering bersantai melepas lelah sambil menunggu adzan maghrib.

Sebuah motor bebek ditumpangi dua remaja warna merah hati, berhenti tepat depan pintu halaman rumah itu. Seorang gadis melompat dari boncengan dan bergegas masuk ke halaman rumah,

“Sebentar malam !”, seru gadis itu dengan rada mengingatkan lalu berlari.

“Okey…!”, jawab pemuda dari atas motornya sambil melambaikan tangan dan kemudian menancap gas, meninggalkan depan halaman rumah Mari menuju penghujung jalan dan membelok ke jalan raya utama.

Setelah Mari tiba dalam kamar, ia meletakan tas hitam yang berisi sebuah bungkusan di atas meja rias, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Sejenak Mari terlihat membersihkan sekujur tubuhnya dengan air hangat, kemudian melap dengan handuk, untuk sekedar menghilangkan rasa penat dan rasa kurang sedap dari udara kotor dalam perjalan bersama Randy seharian.

Kemudian ia kembali ke kamarnya! Lalu mengenakan daster yang baru saja dibelinya di pusat perbelajaan tadi bersama Randy. Segar serta puas rasanya hati Mari memakai daster itu, beberapa kali ia berputar di depan cermin untuk memastikan keserasian warna dan modelnya. Tiba-tiba ia mengangkat kedua jempol tangannya kedepan “ yessss…! pas…!” senyum di wajahnya sangat mempesona.

Mari memang tergolong gadis primadona di kalangan pergaulannya. Kulitnya putih, mulus, dengan wajah yang lumayan cantik dan baik hati.

Terdengar suara gerendel dari pintu kamar yang dibuka. Wajah cantik Mari terpancar dengan senyum yang khas. Kemudian ia melangkah ke ruang tamu dengan hati riang. Langkahnya berhenti sejenak meraih majalah bulanan edisi terbaru di kolong meja tamu. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi teras yang berada di beranda rumah. Sembari melepaskan kelelahan sambil membaca majalah kesenangannya itu disetiap sore hingga petang.

Halaman demi halaman pada majalah itu dilumatnya, setiap judul disantap oleh bola matanya yang hitam pekat itu.

Berulang kali jemarinya yang lentik membolak-balikan lembar-lembar kertas di majalah, dan seketika, bola matanya yang hitam pekat tertuju pada tulisan dari beberapa baris kata pada kalimat yang berakhir dengan tanda tanya dan cukup puitis !

Yaaa…! mungkin sebagaian orang tidak begitu berarti dan tidak menuntut jawaban yang prinsip. Namun, bagi Mari kalimat ini amat menyentuh dan perlu disimak menurut hematnya? Kata demi kata dari baris-baris kalimat itu dicermati ulang dengan teliti. Raut wajahnya tiba-tiba berubah lesu dan garis kerutan pada dahinya jelas tergambar ia sedang berpikir keras. “Aaahhh…!” menarik nafas panjang.

“Terlampau banyak keinginan dan harapan yang berserakan di sepanjang perjalanan ini ? Sedang kerinduanku untuk meraihnya, terkikis oleh pilar-pilar tajam yang berduri, tegak berdiri di sepanjang lorong tempatku berlari. Ibarat sehelai baju yang kupakai, sobek dan koyak tersangkut pada duri-duri pilar-pilar itu?”

Ia terdiam sejenak, dalam benaknya berkata ”Inikah namanya pengorbanan? untuk suatu perjuangan!”.

“Aaahhh….waduhhh…?” mendesis nafas berat dari mulut Mari, kemudian terdengar kalimat yang mencoba untuk membuyarkan segala beban pemikirannya “Itulah…! romantika hidup ?”.

Mari seketika melempar pandangannya ke langit yang mulai berubah warna. Temaram menghias angkasa bersama burung-burung pipit yang terbang ke sana ke mari, seakan mengantar kenangan masa lampau Mari. Terlintas di benaknya, “Sayang….? terbangnya terbata-bata !” ucap Mari dalam hatinya, “Mungkin ia pun tersandung ?” keluhnya, sesaat memandang pipit berseleweran di angkasa.

Sayup-sayup dikejauhan, terdengar suara adzan maghrib dari menara masjid. Renungan Mari buyar dan ia beranjak dari kursi. Majalah yang sedari tadi dalam genggamannya diletekakan kembali dibawa kolong meja tamu, kemudian melangkah ke kamar untuk menunaikan sholat.

Malam tiba, lampu penerangan jalan sudah pada menyala. Terlihat Mari agak gelisah mondar mandir dari kursi ke kursi lain. Ia nampak anggung mengenakan Jeans biru dengan baju kaos oblong ketak, warna hitam. Bodi dan warna kulitnya amat serasi dengan gaya tomboi, namun rambut tetap terurai hingga bahu. Tampak pinggul dan bentuk tubuh lainnya, cukup menggiurkan orang yang melihatnya.

Malam pun kian larut seiring waktu yang berlalu, jam dinding telah menunjuk pukul 21. 30 wita, “uuuuhhh ! dasar laki-laki !” Mari menggerutu dalam hatinya. Penantiannya sia-sia, janji untuk bermalam minggu gagal lagi.

“aaaahh benciiiii……!”.

Kemudian ia beranjak, kaki bajunya ditarik keatas dilepaskan dari dalam celananya sehingga menjulur ke bawah. Tampilannya pun berubah jadi sedikit acakan. Kakinya diseret, sambil melangkah yang sesekali terdengar disentak-sentakan ke lantai, sebagai pertanda kekesalan hatinya, yang dongkol pada Randy !

Mari memasuki kamar. Tak lama kemudian ia keluar dengan pakaian tidur yang agak tipis, sehingga kian nampaklah keelokan tubuh dari sang gadis Mari. Walau raut wajahnya yang kecut itu masih kuat tergambar, namun mampu diatasinya.

Ia menuju sofa yang ada di ruang tamu. Mari duduk tepat depan tv, yang kemudian serta merta tangannya meraih remoute tv yang tergeletak di atas meja tamu. Lalu ia menekan tombol on- off dan menekan tombol no.3 salah satu siaran tv swasta yang banter menyiarkan film-film drama keluarga eksklusif yang mengasyikkan.

Adegan tv pada saat itu, diwarnai dengan kisah drama rumah tangga yang berakhir dengan tragis. Dimana figur dari cerita yang disuguhkan dalam adegan terpaksa digiring oleh petugas ke dalam tahanan bersama istrinya. Karena dituduh dan dijatuhi hukuman oleh keputusan hakim yang mengadilinya, dengan tuduhan melakukan pembunuhan berencana terhadap seorang gadis. Yang diduga sebagai pacar gelap sang suami.

Sementara suasana di jalan raya, lalu lintas cukup ramai. Maklum, malam minggu ! Walau jam tangan seorang ibu yang sedang berboncengan pada saat itu, sudah menunjukan pukul 22.45 wita. Mereka baru saja meninggalkan sebuah gedung pesta perkawinan keluarga. Tiba-tiba..! mereka dikagetkan dengan bayangan orang yang berboncengan mendekat amat rapat dari kendaraan mereka. Lalu secepat kilat! Tangan orang itu bergerak menyabet kalung, yang dikenakan pada leher salah seorang ibu yang berada di boncengan. Suara minta tolong terdengar, ”tolong….! Jambreeeeet…!” “jambreet..!” Terhambur dari mulut sang Ibu, yang saat itu kalungnya dijambret .

Semua mata tertuju pada sang Ibu, yang pucat karena ketakutan. Sekejap motor yang ditumpangi dua orang pemuda itu, meluncur dengan kecepatan tinggi yang disusul oleh seorang pengendara motor yang mengejar ke dua pemuda itu. Lama sang ibu terkesima, berdiri kaku memandang ke arah motor kedua pemuda penjambret itu? Sementara pengedara lain yang lewat di jalan, seketika berhenti mengerumuninya.

“Kenapa bu ?” salah seorang yang bertanya. Lama sang ibu belum menjawab. Lalu disusul dengan pertanyaan lain dari mereka yang mengerumuninya.

“Apanya yang dijambret bu ?”. Sang ibu itu tersentak sadar dari kegelihan yang berkecamuk dalam benaknya, kemudian ia tersenyum, “kalung !”

“Berapa gram bu ?” desak seorang wanita yang juga turut mengerumuninya.
Sang ibu yang dijambret itu tiba-tiba tertawa “eeehhhhhhh…..eeeeehhhh…!” terkekek geli. Orang-orang yang menyaksikannya jadi bingung dan heran ?

“Lho…kok ketawa…?” salah seorang dari mereka yang kesal.

“ La…..? ditanya malah terkekek-kekek, kayak orang sinting saja !” Gerutu wanita tadi dengan nada agak emosi.

Sang Ibu itu, kembali tersenyum, “ Maaf bu, saya rasa geli..? mungkin prasangka penjambret ituuu….?” Diam, kemudian Ia pun kembali terkekeh-kekeh tak tertahankan.

Orang-orang sekitarnya pun semakin penasaran. “Kenapa bu ?” seseorang mendesaknya !

Kedua telapak tangannya menutup wajahnya. Dengan rada malu, ia menjawab “tadi bu… ?” terputus dan terbata-bata, “dikiranya….! Kalung itu emas buuu…?” Lalu “aaahhhh…!” Ia pun kembali terkekeh.

Agak lama orang menunggu jawabannya dan menyaksikan ibu itu tertawa. Ibarat orang yang sedang menyaksikan adegan lawakan. Kemudian sang Ibu berkata, “ Padahal, kalung itu, imitasi bu….!” Ia bernafas menenangkan dirinya. “Hanya asesoris…!” memperjelas ungkapannya. Sambil menyekakeringat yang mengucur memenuhi wajahnya.

Satu persatu orang-orang pun meninggalkan tempat kejadian itu. Sebagian dari mereka ternyata geli juga dengan kejadian yang baru saja disaksikan. Di antara mereka, malah ada yang iseng berkomentar

“ Wah….? ini namanya, penjahat kena jahil….!” Serentak orang yang mendengarnya tertawa keras “Aaaaaahhhhhh…..!”

“Kasihan deh.. lho !” “Baru rasa yaaa….!” Lanjut orang yang iseng tadi, berkomentar.

Sejenak suasana berangsur normal, kendaraan yang lalu lalang sudah tidak terhalang lagi dengan kemacetan karena kerumunan orang. Sang ibu, meninggalkan tempat kejadian yang membuat ia selalu tersenyum kecil bila mengingat kejadian itu? Di dalam benaknya, membenarkan peringatan Mari

“Untung…? saya sempat diingatkan Mari. Agar tidak usah menggunakan perhiasan emas yang menyolok ! ”. “Akhirnya, kalung itu saya ganti dengan asesoris saja”.

Malam kian larut, Mari masih duduk terpaku di depan tv. Namun pikirannya menerawang dan berkecamuk dengan kisah yang baru disaksikan. “Mereka pantas dihukum seberat-beratnya ! “, cemohnya sambil menggurutu.

Tanpa disadari, Mari larut dalam bayangan kisah kedua orang tuanya beberapa tahun silam. Saat dimana ayahnya digugat cerai oleh ibunya, karena dituduh telah menyeleweng dengan seorang gadis. Yang saat itu, sang gadis menghembuskan nafas terakhir di pangkuan ayahnya di atas sebuah ambulance menuju rumah sakit.

Prasangka telah merubah fakta menjadi kenyataan pahit yang harus diterima oleh keluarga Mari, kejadian itu telah melenyapkan keharmonisan keluarganya. Mari terpaksa harus rela menerima berpisah dengan ayahnya yang meninggalkan rumah, sebab marah dan tidak menerima tuduhan itu.

Berselang beberapa tahun setelah kejadian itu, barulah terungkap bahwa sebenarnya ayah Mari ketika itu hanya menolong sang gadis tersebut saat tenggelam di pantai pada saat rekreasi bersama rekannya di salah satu tempat permandian. Gadis korban ketika itu, adalah pacar salah seorang rekannya yang terlepas dari ban pelampung karena tidak tahu berenang dan hanyut terbawa arus ombak.

Akhirnya setelah duduk persoalan dari musibah itu terungkap, keluarga Mari menyadari betapa penyelasan telah menapak sepanjang hidupnya. Ingin rasanya Mari memutar waktu kembali, dan memberi kesempatan untuk rujuk membangun mahligai rumah tannga bagi kedua orang tuanya, namun nasib telah menentukan jalannya sendiri. Kini ia hanya mampu berdoa, semoga kesalahan ini tidak terulang lagi dalam lingkungan keluarganya. Amin….!!!

Makassar, 1 November 2010

Read Previous

Eks Karyawan PT.Makon,Menuntut Hak Pesangon

Read Next

RENCANA BERUJUNG BENCANA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *